Dedi irwan

Alumni Sagusabuku Media Guru, Siak 2018. Penikmat literasi sastra , mencari hidup di Pangkalan Kerinci, Kab Pelalawan Riau...

Selengkapnya
Hajinya Mak

Hajinya Mak

Haji nya Mak

By Dedi

Sudah berulang kali mak menonton film Emak Naik Haji, sebuah film drama keluarga mengharu biru yang dibintangi oleh actor gaek Ati Cancer. VCD yang di pinjam sama wak Dullah menjadi santapan mak setiap malam minggu setelah bada’ Isya. Aku malu sendiri sama wak Dullah karena VCD pinjaman itu sepertinya sudah menjadi hak milik.

“Mak,apa yang mak suka di film itu ?” tanya ku di suatu malam sambil mempersiapkan makan malam.

“Mak suka sama tukang main filmnya !”

“Haa ? aku melongo , bukan alur ceritanya mak ?” tanya ku lagi .

“Mak tidak mengerti apa itu alur cerita. Yang mak tahu orang miskin bisa naik haji”, jawab mak datar sambil menenteng beberapa piring nasi dan lauk ikan asin beledang. Disusunnya diatas meja.

Aku tersenyum mendengar perkataan mak tanpa beban. Untuk menjelaskan kepadanya sama saja dengan guru TPA mengajarkan huruf hijahiyah kepada bocah-bocah mengeja, hari ini dapat besok ngulang. Sayur asam di kuali ku tuang didalam piring batu. “ Siti,sambal belacan sudah kau giling untuk mak ?” teriak wanita tua sembari menyenduk nasi.

“ Sudah mak, ayo mak makan .”

--------

Ayam jantan kurik encik Sati berkokok kokok disahuti berulang ulang oleh si bulu merah wak Atan berdendang pertanda fajar menyingsing. Sinar kemerahan mulai muncul malu-malu di ufuk timur beriring dengan tetes embun menitik di rerumputan dan batang perdu. Burung serindit berkicau riang membentuk paduan suara merdu di pohon merbau berusaha untuk mengalahkan suara kurik dan bulu merah. Pagi yang indah.

Mak sudah bangun sebelum fajar menyingsing. Tubuh ringkih memasuki usia senja itu mempersiapkan berbagai macam panganan basah untuk di jual kepasar. Selesai imam mesjid melafalkan ‘assalamualaikum’ di rakaat terakhir kami berangkat membawa makanan di bakul besar dengan menaiki sepeda ontel peninggalan almarhum ayah. Aku menggonceng mak yang kepayahan memangul bakul menyusuri jalan berkabut dingin ke pasar.

Makanan yang dijual mak biasanya habis terjual sebelum bada’ lohor. Untung penjualan mak belikan bahan kue basah dan lauk untuk esok harinya. Beberapa uang ribuan yang tersisa di tabung oleh mak, “Persiapan untuk kau kawin” kelakarnya. Mak adalah sesosok pribadi yang bersahaja dan tangguh. Beliau dikenal sebagai penjual kue yang ramah senyum dan juga tukang masak perhelatan kawin atau pengajian ibu ibu kampung. Mak ringan tangan melihat orang susah walaupun kami sendiri susah dibuatnya. Mak dihormati walaupun mak hanya tamat Sekolah Menengah Pertama. Bagiku mak adalah Bunda yang mengalahkan Bunda Thresia.

Ayah berpulang, kehidupan kami mulai sedikit limbung. Mak masih bisa tersenyum tapi tidak seindah dulu. Kami berdua bertungkus lumus untuk mencari hidup. Almarhum hanya meninggalkan harta cukup untuk satu turunan saja. Rumah tua, vcd, sepeda ontel dan diriku - anak gadis semata wayangnya. Ayah bekerja sebagai pesuruh di sebuah sekolah dasar negeri dengan gaji seperti ayam mengeram 21 hari. Tapi kesehajaan hidup bukanlah di faktor gaji atau penghasilan. Mak tidak pernah sekali pun mengeluh kepada ayah. Menuntut sesuatu hal yang mustahil untuk dikabulkan walaupun hanya sepasang baju kurung berenda seperti dipakai mak Indun waktu pengajian di mesjid. “Tak apalah Siti, mak masih punya baju kurung kaca piring peninggalan nenekmu, masih bedelau ( Cantik ) kata mak menghibur diri. Kesederhanaan menempa kami untuk selalu sabar dan tabah. Kami bahagia.

Tak obahnya seperti mak, aku pun harus mengerti dengan kehidupan keluarga. Setelah tamat SMA sebenarnya aku ingin melanjutkan kuliah ke PTN. Mak sudah setuju dengan menjual kebun pisang peninggalan moyang untuk mendaftar kan di perguruan tinggi tapi suratan pahit mendera, ayah berpulang. Mak tidak berputus asa memaksaku tapi aku belum menyerah kalah.

“Sudahlah mak, sarjana bisa di peroleh dimana saja bukan dibangku kuliah” , kataku di suatu petang menenangkan hati mak.

“Mak ingin melihat engkau memakai topi seperti Andi anaknya wak Dullah !’’ kata mak.

Andi ? dia baru saja wisuda TPA kanak-kanak di mesjid Baiturahim. “Maksud mak topi Toga ?” tanyaku lagi.

”Iya lah apa tu namanya, kata mak heran melihat aku tertawa terpingkal-pingkal.

===

Suatu hari mak pulang dari pasar dengan semangat membara laksana bujang tanggung mendapat kan surat cinta. Wajahnya berseri-seri menenteng bungkusan kecil plastik hitam.

Siti , mak baru saja membel VCD bubur bang Zulham”

Apa ? buburnya bang Zulham ?”

Iya, kata teman mak di pasar kaset ini sama kisahnya dengan Emak Naik Haji. Tukang bubur bisa berangkat haji, orang naik haji Siti ! orang naik haji!” teriaknya kegirangan. Wajah mak bersinar laksana bulan.

“ Apa ? naik haji ?” tanyaku heran, “apa hubungannya kaset VCD dengan orang naik Haji ? tanyaku didalam hati.

“ Siti, walaupun mak tidak mengerti alur cerita seperti yang kau bilang, tapi mak melihat kisah hidup mereka. Perjuangan hidup dengan tulus iklas membuat Tuhan murah hati memberi mereka ongkos. Ini bisa kita contoh, Ti ” kata mak menyerocos bak bunyi petasan di acara sunat.

“ Mak, mak! apa yang bisa kita contoh mak ? Itu film. Kisah nyata tidak seindah dikisahkan.

“ Itu kan kisah nyata diangkat menjadi cerita !” burunya.

Wajah tua itu menatapku dengan harap-harap cemas. “Apakah mak tidak boleh menonton film bubur bang zulham, Ti ?“

“ Siti bukan melarang mak menonton film tetapi mak harus menyadari bahwa cerita tak seindah realita kehidupan.”

Mak bingung melihatku bertutur kata. “Memangnya mak mau naik haji ?”lanjutku.

Tampak raut sedih di wajah yang digerogoti senja itu. Perasaan ibaku pun datang. “Mak mau naik haji?” aku berbisik pelan sambil merangkul tubuh ringkihnya.

Mak hanya diam dalam pelukanku. Tatap matanya lurus kedepan kosong sembari memegang bungkusan plastik kaset itu erat. Takut seandainya aku merampasnya untuk pengganjal kaki meja yang hampir patah.

Akhirnya penyakit mak menonton film bertambah menjadi dua, pertama Emak Naik Haji , kedua film Bubur Bang Zulham. Pusing.

====

Hari ini kami tidak kepasar. Mak tidur-tiduran di ranjang setelah shalat subuh. Kuraba keningnya tidak panas.“ Mak kenapa ?” tanya ku duduk di tepi ranjang menemani.

Mak melenguh kepayahan, “Siti, apa benar haji mabrur balasannya surga oleh Allah ?”

“Memang betul mak , Allah berjanji dalam quran“, jawabku pelan.

“ Ooohhh!” mak bangun dari tidurnya dengan lesu. Ia duduk disampingku.

“ Memangnya ada apa mak ?” tanyaku lagi.

“ Siti, betapa beruntungnya orang naik haji , surga sudah jaminan” jawabnya lirih.

“ Mak, Allah itu maha adil. Dia tidak pernah membedakan orang naik haji atau bukan. Pergi ke rumah Allah bukan di Mekah saja mak. Ratusan bahkan ribuan rumah Allah tersebar di permukaan bumi, “ kataku menjelaskan.

“Itu kata kamu, Siti! buktinya banyak orang yang ingin naik haji, bahkan berulang-ulang !” mak marah dengan mata membesar, wajahnya memerah.

Aku tersentak sadar. Kutenangkan tubuh tua itu dengan kata lembut, “Bagi yang mampu mak, mempunyai kelapangan rezeki.

“ Bagaimana dengan orang yang susah seperti kita ?” tanya mak lagi.

Kali ini aku tidak bisa menjawab pertanyaan mak. Kualihkan pembicaraan,“Mak, Allah sudah mencukupi rezeki kita yang banyak, kita jangan bersedih !”

“ Siti, mak ingin memakai baju putih tak berjahit, mak ingin naik Haji !

“ Apa ?”

====

Semenjak pembicaraan kami tempo hari semangat mak bertambah untuk menabung di celengan kendi. Celengan itu bertambah menjadi dua. Yang satu untuku kawin yang satu lagi untuk mak naik haji. Sebenarnya aku sedih bercampur haru melihat kesungguhan mak. Mungkin mak terobsesi dengan film yang di tonton atau memang sudah dari dulu mak berkeinginan ingin naik haji tanpa diutarakannya. Ada apa dengan mak sebenarnya? menjual seluruh harta warisan yang di tinggal ayah, rumah reyot, dua buah kursi meja yang hampir patah, vcd dan sepeda ontel rasanya belum mencukupi untuk ONH.

Namun mak tidak patah arang. “Tenang Siti, celengan kita yang satu hampir penuh” ia menjawab kegalauan ku. Aku hanya tersenyum pahit. Bagaimana caranya menyadarkan mak bahwa 10 tahun saja menabung dengan 2 celengan kendi tidak akan mencukupi untuk keberangkatan.

Mak semakin hari semakin cerah, dia mulai asik menghitung tanggal, bulan yang mendekati bulan haji Dzulhijjah hingga alamat Departemen Agama.” Siti kalau uang kita sudah cukup untuk ongkos, engkau daftarkan emak di Departemen Agama ya?” Aku tidak berani untuk menjawab pertanyaan mak yang menghantamku. Prediket haji merupakan prediket yang terhormat di mata masyarakat kami. Hanya orang yang mempunyai prediket kaya raya bisa berangkat. Tuan tanah, toke, pedagang besar, bahkan pengijon ikut mengambil di deretan prediket tersebut. Sedangkan mak ? Allahuallam. Mak tidak tahu bahwa pergi naik haji memerlukan proses yang panjang. Mendaftar ke Departemen Agama, menabung di Bank bahkan harus menunggu beberapa tahun. Seperti nya mak sudah mempunyai tekad yang kuat menuju baitullah. Ya Rabb ,apa yang harus kulakukan untuk mewujudkan mimpi - mimpi mak ?

Entah siapa yang menyiarkan kabar bahwa emak mau naik haji sehingga tersebar di pelosok kampung. Mungkin mak secara tidak sadar bercerita dengan orang pasar sehingga menjadi buah bibir. Cemoohan, sindiran tentang mak sudah menjadi hal biasa kudengar. Tapi mak tidak perduli.

Berita ini sampai juga ketelinga haji Saidi orang paling berada di kampung kami. Selain tuan tanah haji Saidi mempunyai ladang sawah yang banyak. Para petani gurem sering meminjam uang kepadanya asalkan hasil sawah dijual dengan harga murah. Kami menyebutnya haji dedekut ( Pelit ). Tampang wajahnya seperti Mr van den bosh kompeni belanda yang berhasil merampas tanah inlander. Senyum seringainya menampakan dua gigi kuning emas didepan sebagai senjata pamungkas bagi petani yang mau panen. Bagi petani haji Saidi adalah dewa penolong dikala kesusahan, sitawar si dingin dikala gundah. Bagi ku pembawa bencana ! Aku takut melihat matanya yang aneh tajam menikam. Tidak kulihat keteduhan di biji matanya. Kalau mak menyuruhku membeli sesuatu di warung aku berusaha menghindar melewati jalan rumahnya

========

Hingga di suatu hari malapetaka itu datang. Mr van den bos secara tidak sengaja bertemu muka denganku di depan warung disaat aku belanja keperluan harian. Aku sudah berusaha berkelit menutup muka dengan saputangan tapi dia sepertinya tahu bahwa aku adalah Siti anak mak Rogayah. Dengan suara payau meyapaku, “Oi Siti kapan mak mu nak berangkat ? “ dia meyeringai aneh memamerkan gigi emas kebanggaanya. Pertanyaan sepertinya melecehkan mak.

Aku diam, haruskah aku jawab pertanyaan haji dedekut ini?

“ Bulan haji mau sampai, wak pun berangkat haji tahun ini. Dari Embarkasi mana makmu berangkat ? Kloter keberapa ?.”

Pertanyaan beruntun haji Saidi bagaikan peluru dari stand gun menghujam dadaku. “ Mak belum berangkat haji wak, uang kami belum cukup” jawabku cepat.

“ Berapa kurang duit emakmu , wak bisa pinjamkan !”

Bisa dipinjamkan ? aku tidak percaya haji Saidi mau memimjamkan uang begitu saja tanpa ada maksud dibalik itu.

“Oh, jangan kuatir, pinjaman tanpa bunga !” ia mempertegas pernyataan untuk menjawab kekuatiranku.

“ Tidak usah wak, mak belum berangkat tahun ini,” jawab ku tegas menolak.

“ Kapan uang kalian terkumpul ? tahun keberapa emakmu bisa berangkat ?”

Aku mulai gelisah, pertanyaan Mr van ini menjebak tak sudah-sudah.

“Mak berangkat jika Allah berkehendak “ jawab ku diplomatis. Ingin rasanya aku lenyap terbang meninggalkan wak haji ini.

Haji Saidi menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti pengantin laki menatap pasangan dengan cinta, tiada bergeming. Lalu mulutnya berguman kecil membaca mantra pengasih Datu Kuning dukun menghusir lelembut di kampung “Tak usah mak menunggu lama naik haji asalkan janur kuning di rumah bisa kita pasang setelah bulan haji !”

Kata-kata terakhir wak dekut ini sangat memuakanku. Mataku memerah, badanku mengigil menahan amarah.

“ Tanpa bantuan wak, mak bisa naik haji , jawabku tinggi. Aku membalas menatap mata nya dengan tajam. Kami tidak membutuhkan wak !” jawabku berbalik sambil berlari kecil.

“ Siti !, Siti !”

=====

Hidup tak lebih perjalanan singkat masih ada perjalanan panjang yang lebih berarti dihadapan Tuhan. Manakala manusia dengan kemampuannya yang terbatas menyingkap dibalik suatu cerita Allah berkehendak lain menurut kodrat dan iradat nya. Sama seperti nasibku dengan mak. Perjumpaan dengan haji Saidi merupakan malapetaka pertama bagiku dan sebuah peristiwa lagi menghancurkan mimpi-mimpi yang mak susun menjadi bencana yang kedua.

“Mak rogayah ! mak ! Ketukan pintu berderik derik di suatu malam.

“ Mak ada yang memanggil – manggil.

“Siti kau buka pintu, suruh mak.

Aku bergegas membuka pintu. Kulihat encik Putri tetangga kami yang nasibnya setali tiga uang - dengan pucat pasi berdiri didepan pintu.

“ Encik putri ? Ada apa ? masuklah, kupersilahkan wanita muda itu duduk.

Tubuhnya langung menghampiri mak sedang menonton VCD tanpa mengindahkanku. “Mak, Munah masuk rumah sakit !”

“Kenapa ?” tanya mak gusar sambil mematikan VCD cepat.

“Dia muntah - muntah, muntaber agaknya. Kami sudah membawa nya kerumah sakit. Pihak rumah sakit meminta uang jaminan. Dia harus ditangani dengan cepat kalau tidak nyawanya terancam.”

Mak terdiam. Aku pun terdiam bisu.

“Mak ! kepada siapa kami meminta tolong ? Kepada haji Saidi ? Dia tidak mau meminjam kan kalau tidak menjual padi kepadanya.”

Mendengar nama haji Saidi seperti aku tersambar petir disiang bolong. Mak pun terhenyak di kursi. Apa yang harus dipinjam kan ? uang hasil jualan sudah habis membeli makanan dan ditabung.

“Mak !” pinta encik Puteri memelas. Raut wajahnya semakin putih.

Wanita tua itu bimbang mau menjawab apa. Kutahu hatinya berkecamuk terpecah belah. “Siti, kau ambil dua celengan kendi kita,katanya tegas tanpa ada kegalauan lagi.

“ Apa mak ? celengan kendi kita?” tanyaku seakan tidak percaya

“ Ya.”

“ Tapi itu tabungan mak untuk naik haji !”

“Siti ! mak memburansang (marah ). “Apakah kau senang melihat nasib encik Putri?

“Mak , coba mak pikirkan lagi” pintaku lagi.

“ Siti ! kau dengar cakap mak!”

Di Mekah almukarramah tasbih bergema memuja kebesaran Allah. Berjuta-juta manusia thawaf dari berbagai bangsa mengelilingi Kabah. Haji Saidi pun pergi haji entah keberapa kali - melaksanakan thawaf, rukun haji yang kedua.

Laki laki tua itu terperanjat secara tidak sadar matanya melihat sesosok wajah yang sangat di hapalnya, tetangga sekampungnya. Di kucek – kucek matanya berulang-ulang seperti melihat hantu disiang bolong. Mustahil dia naik haji, mustahil! Dan kemustahilan terbayar sudah ketika wajah rembulan itu menghampirinya dan memandangnya lekat, Haji Saidi ?”

Haji Saidi pun terjerembab pingsan. Allah tersenyum bersama mak Rogayah di rumah.

Memorial Ibu tercinta, Nuraini, Taher

Semoga Allah menempatkan di Jannahnya, Amin ya rabb

Bangkinang, Agustus 2001

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

trims buk lilis !

09 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali